Anak Disabilitas Juga Subjek Pembangunan

oleh -26 Dilihat
oleh
Ketua P2TP2A Jabar Netty Heryawan saat Diseminasi Informasi Kekerasan Pada Anak Bagi Guru SLB se-Bandung Raya di Aula Disdik Jabar, Selasa (13/12). by Ttg Humas Pemprov Jabar
Ketua P2TP2A Jabar Netty Heryawan saat Diseminasi Informasi Kekerasan Pada Anak Bagi Guru SLB se-Bandung Raya di Aula Disdik Jabar, Selasa (13/12). by Ttg Humas Pemprov Jabar

BANDUNG – Sekolah merupakan salah satu institusi yang dapat membangun karakter dan jadi salah satu wadah untuk pencegahan kekerasan pada anak. Untuk itu, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan mengatakan, penting untuk para guru memahami dan menghindari tindakan yang dapat berujung kekerasan terhadap anak. Ini diungkapkannya pada Diseminasi Informasi Kekerasan Pada Anak Bagi Guru SLB se-Bandung Raya di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Selasa (13/12/16).

Netty mengatakan di masyarakat masih ada orangtua yang memiliki anak disabilitas malah disembunyikan atau ditempatkan di tempat tidak layak. Padahal anak disabilitas juga sebagai objek pembangunan. Menurutnya ini termasuk kekerasan oleh orang tua, di samping pola pengasuhan yang salah dan tidak tepat bagi anak.

“Oleh karena itu melalui guru SLB yang menjadi salah satu ujung tombak kita untuk melakukan diseminasi informasi edukasi tentang pencegahan dan penanganan kekerasan pada anak-anak disabilitas,” ujarnya.

Netty menyebutkan, dalam penanganan atau solusi yang dapat dilakukan kita untuk memutus rantai kekerasan adalah dengan merujuk pada teori lingkaran obat nyamuk. Mulai dari keluarga dengan memberikan pengetahuan tentang cara pengasuhan yang baik pada anak, institusi pendidikan meliputi sekolah yang ramah anak, masyarakat yang mampu menjadi pengawas pada permasalahan sosial dan negara yang mampu memberikan kebijakan yang memihak pada korban serta memberi efek jera pada pelaku.

Netty berharap dengan cara seperti itu dapat mencegah anak-anak disabilitas jadi korban kekerasan, baik kekerasan psikis, fisik, seksual bahkan penelantaran. Juga dapat dikembangkan bakat dan potensi sehingga mereka tidak jadi korban diskriminatif di keluarganya maupun lingkungan masyarakat.

Baca Juga  Kasdam; Prajurit Siliwangi Sejak Dulu Peduli Sungai Citarum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.