Konsep Bela Negara Harus Multidimensi

oleh -26 Dilihat
oleh
Wagub Jabar Deddy Mizwar usai Upacara Peringatan ke-68 Hari Bela Negara dan Hari Nusantara di Gedung Sate, Senin (19/12). by Ttg Humas Pemprov Jabar
Wagub Jabar Deddy Mizwar usai Upacara Peringatan ke-68 Hari Bela Negara dan Hari Nusantara di Gedung Sate, Senin (19/12). by Ttg Humas Pemprov Jabar

BANDUNG – Upacara Peringatan ke-68 Hari Bela Negara dan Hari Nusantara Tingkat Provinsi Jawa Barat, digelar di Halaman Gedung Sate Bandung, Senin (19/12/16). Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup), membacakan amanat Presiden RI Joko Widodo.

Dalam amanatnya Jokowi menyatakan saat ini berbagai tantangan dan ancaman terhadap kedaulatan bangsa sudah berkembang, baik fisik maupun non-fisik. Ancaman berkembang menjadi bersifat multidimensi, karena karakter ancaman bersumber dari ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya. Maka lahirlah ancaman nasional seperti korupsi, narkoba, ekstrimisme, terorisme, dan lain sebagainya.

“Dalam menghadapi ancaman multidimensi tersebut, maka konsep bela negara yang kita miliki juga harus bersifat multidimensi. Membela negara dengan memberantas narkoba, melawan praktik korupsi, pungli, mencegah berkembangnya bibit-bibit ekstrimisme dan terorisme di bumi nusantara,” kata Jokowi pada sambutannya yang dibacakan Wagub Deddy Mizwar.

Di era kompetisi global sekarang, imbuh Jokowi, kesadaran bela negara dapat diaktualisasikan dalam peran dan profesi setiap warga negara. Contohnya pengabdian para guru, bidan, dan tenaga kesehatan yang tengah berjuang melakukan tugasnya di pelosok tanah air, di kawasan perbatasan, di pulau- pulau terdepan, anak-anak muda yang kreatif, yang peduli lingkungan, yang menegakan kebhinekaan, sesungguhnya adalah bentuk mulia bela negara.

“Saya ingin menegaskan tantangan besar dalam sejarah, adalah bagaimana mempertahankan kelangsungan hidup kita sebagai bangsa yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, serta berkepribadian dalam bidang kebudayaan,” tegasnya.

“Maka, saya ingin mengajak seluruh warga untuk membangun keinsyafan bersama, bahwa kelangsungan hidup kita sebagai bangsa, adalah penjumlahan dari seluruh kekuatan rakyat. Dengan kekuatan rakyat, maka bangsa ini akan mampu menghadapi segala jenis ancaman dan tantangan. Itulah esensi dari sistem pertahanan rakyat semesta, yang terbukti dalam sejarah bisa membuat republik ini berdiri tegak,” tandas Jokowi.

Baca Juga  Bupati Bandung: Penyerahan PSU Perumahan untuk Wujudkan Permukiman yang Berkualitas

Sementara itu, terkait Peringatan Hari Nusantara 2016 Wagub Jabar Deddy Mizwar kembali membacakan sambutan, yang kali ini merupakan amanat Menteri Kelautan dan Perikanan, selaku Ketua Harian Dewan Kelautan Indonesia Susi Pudjiastuti.

Susi menjelaskan, Deklarasi Djoeanda pada 13 Desember 1957 merupakan tonggak bagi penyatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang utuh, dan di antara pulau yang satu dengan yang lain tidak terdapat laut internasional. Sehingga melalui pernyataan diri sebagai Negara Kepulauan, maka laut bukan pemisah, tapi pemersatu bangsa.

Melalui Deklarasi Djoenda ini pula, maka prinsip-prinsip wilayah laut negara kepulauan kemudian diterima, sehingga wilayah laut Indonesia bertambah luas menjadi kurang lebih 5,8 juta km2. Tanggal 13 Desember kemudian ditetapkan sebagai Hari Nusantara oleh Presiden RI kelima Ibu Megawati Soekarnoputri melalui Keppres No.126 Tahun 2001.

“Sebagai negara kepulauan yang terbesar di dunia, sebagian besar wilayah Indonesia, hampir 75 %, merupakan laut. Laut yang demikian luasnya itu memiliki kandungan potensi yang luar biasa berupa ikan, terumbu karang, rumput laut, hutan bakau, bahkan sumber energi yang dapat dibangkitkan dari gelombang, pasang surut air laut, dan lain-lain yang dapat menjadi alternatif bagi sumberdaya di daratan yang sudah semakin terbatas,” sebut Susi.

Momen Hari Nusantara, selain bertujuan untuk mengingatkan kembali tentang jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari yang hidup di negara kepulauan bercirikan nusantara, juga dimaksudkan untuk mengubah mindset terhadap ruang hidup dan ruang juang dari matra darat menjadi matra laut, serta meningkatkan pemahaman wawasan kelautan kepada masyarakat. Hal ini tentunya ditujukan untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mampu mengelola potensi sumberdaya alam laut bagi kesejahteraan masyarakat, sebagaimana visi pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Baca Juga  Abah Deka: Tunda Dahulu Kegiatan Lain, Prioritaskan Kebutuhan Masyarakat di PPKM Darurat

“Kementerian Kelautan dan Perikanan menerjemahkan arahan Presiden tersebut dengan berkomitmen untuk melaksanakan pembangunan dan pengelolaan kelautan nasional, melalui 3 misi, yakni: Kedaulatan, Keberlanjutan, dan Kesejahteraan,” ungkap Susi.

“Salah satu wujud nyata dari pelaksanaan misi tersebut adalah dengan memberantas illegal fishing melalui penegakan hukum di laut, Pemberantasan illegal fishing telah memberikan dampak yang signifikan bagi ekonomi perikanan di Indonesia, bahkan bagi dunia internasional. Sumber daya ikan semakin melimpah dan dapat dinikmati oleh seluruh nelayan Indonesia,” tuturnya.

Adapun tema peringatan Hari Nusantara 2016 ini adalah “Tata Kelola Potensi Maritim Nusantara yang Baik Menuju Poros Maritim Dunia”, dan puncak acaranya dilaksanakan di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Susi menekankan, Peringatan Hari Nusantara ini bukan sekedar seremonial saja, tapi juga menjadi model pembangunan terintegrasi bagi kepulauan terluar atau terpencil, yang merupakan wujud sinergitas program Kementerian/Lembaga dalam pembangunan kelautan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.