
BANJARAN, Balebandung.com – Pahlawan Sasak Rawayan adalah judul dokumen yang ditemukan pada Juli 2015. Tentu saja cerita pertempuran ini adalah salah satu cerita pertempuran pada saat mempertahankan kemerdekaan yang luput dari buku sejarah.
Dokumen ini dibuat sebetulnya untuk proposal pendirian monumen di tempat kejadian. Ada tiga buah dokumen. Satu hasil pengetikan yang harus direvisi, draft dengan tulisan tangan tinta biru dan satu dokumen tentang kepengurusan.
Menurut dokumen, pertempuran yang berlangsung pada Senin 26 Agustus 1946 sekitar pukul 08.00 WIB atau 28 Ramadhan 1365 H. Satu tahun sembilan hari setelah Proklamasi Kemerdekaan dan dua hari menjelang Idul Fitri 1365H.
Sasak Rawayan adalah sebutan untuk jembatan gantung yang terbuat dari kawat dan besi yang melintasi Sungai Cisangkuy. Berada di Kampung Pataruman, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Dapat diakses dari jalan Soreang-Banjaran dekat Ciherang. Jembatan itu sekarang tinggal nama, dan mungkin banyak orang yang sudah lupa dengan kisah Sasak Rawayan itu sendiri.
Bagi para pejuang pertempuran di Sasak Rawayan pasti tidak akan bisa dilupakan. Sebanyak 43 tiga orang pejuang gugur dalam pertempuran tersebut, dan dicatat sebagai salah satu pertempuran yang paling banyak merengut pahlawan bangsa. Para pahlawan yang merelakan nyawanya demi negara dan bangsa ini sehingga mereka tidak bisa merasakan Lebaran pertama kali setelah merdeka.
Para pejuang yang melintasi area pesawahan tiba-tiba saja diberondong peluru. Meski sudah diberikan wejangan untuk mempelajari strategi musuh, tetapi takdir berkata lain. Sebagian lagi ada yang mengatakan ada seorang pengkhianat yang telah membocorkan gerak-gerik para pahlawan yang gugur ini, sehingga dengan mudah musuh mengurung dan memborbadir mereka di area pesawahan.
Jasad para pahlawan yang gugur dan bergelimpangan di sawah diangkut menggunakan taraje (tangga yang terbuat dari bambu) dan badodon (alat untuk mengambil ikan di sungai) oleh kaum wanita. Mereka yang selamat karena bersembunyi dalam bungker-bungker yang memang sudah dipersiapkan. Dalam dokumen itu disebutkan salah satu wanita yang melakukan evakuasi terhadap jasad para pahlawan yang gugur di pertempuran sasak Rawayan adalah Ibu Sukaesih.
Sebagian besar taraje dan badodon yang digunakan dalam evakuasi tersebut sudah habis dimakan usia. Ada satu yang tertinggal yang kabarnya disimpan di Museum Mandala Wangsit Siliwangi Jl. Lembong, Bandung.
Sedangkan ke 43 para pahlawan yang gugur dalam pertempuran setelah dikumpulkan di Bale Desa Kiangroke dan Markas Tentara di Kampung Tarigu. Keesokan harinya diberangkatkan ke Pangalengan menggunakan truk PKKB dan dimakamkan di Ciwadara dan Citere.*** by Yeni Kurniatin, 12 Agustus 2015.
Nih, cuplikan dari dokumen tersebut.

