Angka Pernikahan Dini di Jabar Masih Tinggi

oleh -37 Dilihat
oleh
Ketua TP PKK/Dekranasda Jabar Netty Prasetiyani Heryawan menerima cinderamata usai melantik Ketua TP PKK/Dekranasda Kab Bandung Kurnia Agustina Naser di Gd Moch Toha, Soreang, Jumat (1/4). by Humas Pemprov Jabar
Ketua TP PKK/Dekranasda Jabar Netty Prasetiyani Heryawan menerima cinderamata usai melantik Ketua TP PKK/Dekranasda Kab Bandung Kurnia Agustina Naser di Gd Moch Toha, Soreang, Jumat (1/4). by Humas Pemprov Jabar
Ketua TP PKK/Dekranasda Jabar Netty Prasetiyani Heryawan menerima cinderamata usai melantik Ketua TP PKK/Dekranasda Kab Bandung Kurnia Agustina Naser di Gd Moch Toha, Soreang, Jumat (1/4). by Humas Pemprov Jabar

SOREANG – Angka pernikahan dini di Jawa Barat hingga kini masih tinggi. Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Jabar Netty Prasetyani mengatakan untuk angka pastinya itu ada di pihak BKKBN, namun yang pasti jumlahnya terbilang tinggi. Tidak sedikit anak perempuan berusia belia di Jabar yang sudah memiliki anak. Bahkan, banyak juga perempuan berusia 14 sampai 16 tahun yang statusnya sudah menikah.

“Kasus pernikahan dini di Jabar memang masih tinggi, itu bisa dilihat dari adanya anak-anak belia yang masih usia sekolah namun sudah menikah bahkan sudah punya anak,” kata Netty usai melantik Ketua Dekranasda Kabupaten Bandung di Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung, Soreang, Jumat (1/4/16).

Dia menilai pernikahan dini ini dilakukan tanpa visi sehingga sedapat mungkin harus bisa dihindari. Sebaliknya pernikahan dini adalah awal dari situasi kerentanan dalam kehidupan seseorang. Seperti menimbulkan ketidakharmonisan, dan pada akhirnya bisa berujung perceraian.

Jika itu terjadi, yang muncul berikutnya adalah orang tua tunggal akibatnya anak menjadi terlantar atau tidak terawasi dengan baik tumbuh kembangnya. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan anak itu diasuh dengan sendirinya oleh pergaulan bebas, narkoba, human trafficking dan lainnya.

“Itulah mengapa pernikahan dini ini menjadi persoalan dari berbagai persoalan lainnya sebab bisa menjadi pencetus munculnya keluarga-keluarga yang broken home atau anak-anak yang dibesarkan dari orang tua tunggal,” tuturnya.

Netty mengimbau agar masyarakat bisa mengidenfitikasi segala kekerasan yang terjadi pada anak, baik itu secara fisik ataupun seksual. Tentunya, kekerasan terhadap anak ini juga harus dihindari oleh para orang tua. Solusi jangka panjangnya, dengan meningkatkan kualitas pendidikan pada masyarakat dan menanamkan nilai-nilai agama, sehingga anak memiliki ketahanan mental.

Baca Juga  Kadisdik: Orang Tua Mengerjakan Tugas Sekolah Anak itu Salah

“Peran kader PKK di sini pun sangat diperlukan untuk memberikan wawasan dan pendampingan kepada masyarakat akan kehidupan yang baik dan benar,” pungkasnya. (fik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.