
SOREANG – Angka pernikahan dini di Jawa Barat hingga kini masih tinggi. Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Jabar Netty Prasetyani mengatakan untuk angka pastinya itu ada di pihak BKKBN, namun yang pasti jumlahnya terbilang tinggi. Tidak sedikit anak perempuan berusia belia di Jabar yang sudah memiliki anak. Bahkan, banyak juga perempuan berusia 14 sampai 16 tahun yang statusnya sudah menikah.
“Kasus pernikahan dini di Jabar memang masih tinggi, itu bisa dilihat dari adanya anak-anak belia yang masih usia sekolah namun sudah menikah bahkan sudah punya anak,” kata Netty usai melantik Ketua Dekranasda Kabupaten Bandung di Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung, Soreang, Jumat (1/4/16).
Dia menilai pernikahan dini ini dilakukan tanpa visi sehingga sedapat mungkin harus bisa dihindari. Sebaliknya pernikahan dini adalah awal dari situasi kerentanan dalam kehidupan seseorang. Seperti menimbulkan ketidakharmonisan, dan pada akhirnya bisa berujung perceraian.
Jika itu terjadi, yang muncul berikutnya adalah orang tua tunggal akibatnya anak menjadi terlantar atau tidak terawasi dengan baik tumbuh kembangnya. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan anak itu diasuh dengan sendirinya oleh pergaulan bebas, narkoba, human trafficking dan lainnya.
“Itulah mengapa pernikahan dini ini menjadi persoalan dari berbagai persoalan lainnya sebab bisa menjadi pencetus munculnya keluarga-keluarga yang broken home atau anak-anak yang dibesarkan dari orang tua tunggal,” tuturnya.
Netty mengimbau agar masyarakat bisa mengidenfitikasi segala kekerasan yang terjadi pada anak, baik itu secara fisik ataupun seksual. Tentunya, kekerasan terhadap anak ini juga harus dihindari oleh para orang tua. Solusi jangka panjangnya, dengan meningkatkan kualitas pendidikan pada masyarakat dan menanamkan nilai-nilai agama, sehingga anak memiliki ketahanan mental.
“Peran kader PKK di sini pun sangat diperlukan untuk memberikan wawasan dan pendampingan kepada masyarakat akan kehidupan yang baik dan benar,” pungkasnya. (fik)