
BANDUNG – Basa Sunda sebagai bahasa indung, jatidiri dan kebanggaan masyarakat Jawa Barat perlu terus didorong perkembanganya. Dalam pergaulan yang semakin mengglobal seringkali bahasa daerah banyak yang tergerus keberadaannya.
Karenanya semua pihak, baik itu pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat perlu memiliki langkah-langkah nyata untuk terus membuat bahasa daerah itu untuk terus hidup dan menjadi bahasa penting dalam pergaulan lokal maupun keluarga.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat dipandang perlu untuk membuat peraturan daerah yang mengatur agar nama jalan-jalan provinsi, gedung-gedung, pusat-pusat perbelanjaan dan lain-lain lebih mengutamakan Basa Sunda.
“Masa kita merasa lebih bergengsi memakai bahasa Inggris daripada basa Sunda? Itu sikap tak berbudaya dan melupakan warisan leluhur,” ungkap anggota Komisi X DPR RI Dadang Rusdiana, saat Mieling Poe Basa Indung, di Gedung YPK Jalan Naripan Bandung, Minggu (19/2/17).
Demikian juga masyarakat tidak usah malu dan merasa kampungan kalau menggunakan basa sunda sebagai bahasa keluarga. “Banyak orang yang sudah malu bercakap-cakap dengan basa Sunda dengan anaknya, sepertinya dianggap ketinggalan zaman. Nama-nama sunda seperti Dadang, Asep, Euis, dan lain-lain, sudah dianggap tak modern lagi, ini kan salah kaprah,” tandasnya.
Demikian juga dengan penggunaan basa Sunda sebagai bahasa pengantar di TK/Paud, Kelas 1,2 dan 3 tentunya harus dilakukan juga, supaya anak tetap mengenal basa indungnya. “Jadi, keberadaan dan keberlanjutan basa Sunda itu adalah tangggung jawab bersama,” pungkas Darus, sapaan Kang Dadang Rusdiana.
Mieling Basa Indung yang diketuai H Taufik Faturohman dihadiri pula Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Deputi Kelembagaan Kemenpar Ahmansya dan tokoh masyarakat Jawa Barat Uu Rukmana.
Dalam acara tersebut berlangsung pula talkshow dengan pembicara : Prof Ganjar Kurnia, Dadang Rusdiana dan Drs. Sobandi yang dimoderatori Tatang Sumarsono. Dalam acara tersebut diberikan pula hadiah untuk para pemenang penulisan carpon, memperebutkan hadiah dari Kang Dadang.