Bawang Putih Rancabali Kolaps Sejak 1980-an

oleh -25 Dilihat
oleh
Komisi IV DPR RI, bersama Kementeri Pertanian dan Perum Bulog, PT Pertani, saat kunker ke Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kab Bandung, Selasa (30/5). by bbcom
Komisi IV DPR RI, bersama Kementeri Pertanian dan Perum Bulog, PT Pertani, saat kunker ke Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kab Bandung, Selasa (30/5). by bbcom
Komisi IV DPR RI, bersama Kementeri Pertanian dan Perum Bulog, PT Pertani, saat kunker ke Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kab Bandung, Selasa (30/5). by bbcom

RANCABALI – Anjloknya luas lahan pertanian bawang putih dalam negeri, tidak terlepas dari gempuran bawang putih impor asal Filipina pada era 1980-an hingga kini. Kemudian diperparah oleh impor dari negara lainnya. Seperti yang dialami para petani bawang putih di Desa Alam Endah Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung, dari sebelumnya terdapat kurang lebih 250 hektar, kini tersisa 4 hektar saja.

Tokoh pertanian Desa Alam Endah, Awan Rukmawan mengatakan, pada 1982-1989 di Desa Alam Endah terdapat kurang lebih 250 hektar pertanian bawang putih. Kemudian terjadi fluktuatif harga, hingga harga terendah mencapai Rp 400 perkilogram. Otomatis, para petani lokal mengalami kerugian besar-besaran.

“Sejak itu, para petani di sini mulai beralih komoditas. Itu terjadi pada 1989, petani menanam seledri dan tomat sampai 1990-an. Kemudian memasuki tahun 2000-an mulai beralih pada komoditas stroberi. Memang sangat disayangkan, karena bawang putih dari Desa Alam Endah ini salah satu yang terbaik di Indonesia. Tapi karena gempuran bawang impor, jadi hancur,” kata Awan yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Alam Endah.

Saat itu, kawasan Desa Alam Endah memang terkenal sebagai sentra pertanian bawang putih di Kabupaten Bandung. Namun sayangnya, gempuran bawang putih impor membuat para petani kolaps. Pada 1989 saja, bawang putih impor asal Fhlipina membanjiri pasar dalam negeri hingga ratusan ton perharinya.

“Saat itu bawang putih dalam negeri akhirnya masuk ke pasar lokal. Namun lagi-lagi kalah bersaing dengan bawang impor,”kenangnya.

Meski gempuran bawang putih impor terus terjadi hingga hari ini, lanjut Awan, namun di Desa Alam Endah ini masih ada beberapa petani yang masih setia tetap menanam bawang putih. Itu pun mereka memanen tanamannya di usia muda. Karena memang tanaman bawang putih muda yang biasa disebut son, harga jualnya sama dengan bawang putih yang telah memasuki usia panen.

Baca Juga  Seorang Kades di Majalaya Digerebeg Polisi Saat Hisap Sabu-sabu

“Yang masih setia menanam bawang putih itu beberapa orang tokoh petani di sini. Itu juga dipanenmuda, karena harga jualnya sama dengan yang sudah tua, sekitar Rp 20 ribu perkilogram,”ujarnya.

Keuntungan petani bawang putih panen muda ini, lanjut Awan, dari bibit 100 kilogram, bisa menghasilkan 5-6 ton bawang putih muda. Sedangkan jika ditanam hingga cukup usia panen, dengan jumlah bibit yang sama hanya menghasilkan sekitar 2,5 ton bawang putih tua.

“Nah, kalau ingin mengembalikan kejayaan bawang putih lokal, termasuk di Alam Endah ini, yah harus ada jaminan harga dari pemerintah, dengan melakukan kontrak harga. Kalau saat ini, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk bawang putih, minimal Rp 10 ribu perkilogram itu untuk bawang putih muda. Kalau di bawah itu petani masih rugi,” kata Awan.

Dengan adanya jaminan harga dari pemerintah, kata dia, tentunya akan mendongkrak semangat petani untuk kembali menanam komoditas bawang putih. Selain jaminan harga, diperlukan juga bantuan dari pemerintah berupa bibit, pupuk, alat pertanian dan juga alat pengering.

“Kalau ada kontrak harga, para petani juga otomatis semangat lagi. Bahkan kalau dirasa menguntungkan karena ada jaminan harga, dengan sendirinya mereka akan memperluas lahan pertaniannya,”ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.