
CICALENGKA,balebandung.com – H. Dede Suryana, pelaku usaha hijab di Kampung Dampit Tengah RT 02/RW 05 Desa Dampit Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung mengaku sepi dalam pemasaran hijab atau busana muslim, sehingga mengalami kesulitan untuk mempertahankan kelangsungan usaha tersebut.
Dede sempat mengungkapkan hal itu saat menerima kunjungan Ketua TP PKK Kab. Bandung Hj. Emma Dety Dadang Supriatna ke lokasi perusahaannya.
“Pasar sepi. Mungkin karena dampak krisis ekonomi,” kata Dede kepada wartawan di lokasi perusahannya di Desa Dampit, Kamis (17/11/2022).
Menurut Dede, pasar hijab yang dihasilkannya itu, di antaranya ke Bekasi, Jakarta, Sumatera dan sejumlah daerah lainnya. “Sepinya pemasaran hijab itu, setelah memasuki awal pandemi Covid-19 sampai saat ini,” kata Dede.
Sebelum terjadi pandemi Covid-19, ia menyebutkan, pasar hijab ke daerah itu bisa tembus mencapai 1000 kodi lebih per Minggu. “Setelah memasuki pandemi Covid-19, hampir 95 persen mengalami penurunan dalam pemasaran,” ucapnya.
Untuk mempertahankan usaha hijab atau kerudung itu, Dede pun berusaha untuk tetap memproduksi barang, sehingga barang yang sudah jadi dijadikan stok atau disimpan. “Nanti dipasarkan setelah pasar ramai,” katanya.
Ia berharap kedepan pemasaran hijab bisa kembali normal lagi. “Pemasaran masih tetap jalan. Para pelanggan masih tetap menghubungi saya,” ujarnya.
Dede pun berusaha untuk membina dan menjalin komunikasi dengan para pelanggan. “Membina pelanggan dengan cara, menjaga dan meningkatkan kualitas barang. Itu cara membina pelanggan,” katanya.
Dede mengungkapkan pasar hijab disaat lagi ramai bisa tembus 5000 kodi per bulan dalam pemasaran dengan tenaga kerja 25 orang dan beberapa orang yang ada di luar perusahaan. “Soalnya, produksi hijab yang kita hasilkan itu, sebagian dimaklunkan atau dikerjakan oleh empat warga lainnya di tempatnya masing-masing,” tuturnya.
Dede juga berharap kepada pemerintah untuk membantu para pelaku usaha, khususnya dalam permodalan untuk kelangsungan usaha tersebut. Mengingat, usaha Dede yang digeluti itu dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat.
“Selain berharap bantuan modal, juga kelancaran atau kemudahan dalam pengadaan bahan baku,” katanya.
Ia mengatakan, bahan baku itu kalau dikatakan melimpah tidak, dan bisa disebutkan masih ada. “Kita mengalami kesulitan aksesoris. Selama ini, belanja aksesoris ke Cicalengka dan Pasar Baru Bandung,” katanya.
Menurutnya, selama pandemi Covid-19 itu, dari penghasilan usaha sebelumnya digunakan untuk bekal hidup sehari-hari selama dua tahun. “Selama dua tahun itu, produksi sedikit dan banting setir usaha lainnya.***