Dokter Muda UKI Teliti Stunting Periode 9

oleh -30 Dilihat
oleh

SUMEDANG, Balebandung.com – Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dokter Muda Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta kembali melakukan penelitian tingkat prevalensi dan pencegahan angka stunting di Kabupaten Sumedang selama 7 hari ke depan.

Ketua PKM Berani UKI, Kevin C. Sembiring berharap jumlah anak yang mengalami stunting khususnya di Kabupaten Sumedang menurun. Dengan demikian, anak bangsa akan tetap sehat dan tak ada lagi yang mengalami stunting.

“Kita terapkan pencegahan stunting dimulai dari hulu, khususnya kaum perempuan sebelum melahirkan,” kata Kevin kepada wartawan, Senin (27/1/20).

Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran UKI, DR. Sudung Nainggolan, M.Sc menambahkan, penelitian stunting ini memasuki periode kesembilan. Pihaknya ingin meliihat hasil kiprah para dokter muda yang melakukan penelitian, dan mereka sudah berbuat apa saja. Bahkan ia ingin membandingkan, soal angka stunting di Sumedang sekira 24 ribuan (32 %) dengan fakta sekarang.

“Para dokter muda ini, akan melakukan kiprahnya di 10 desa se-Sumedang, mulai hari ini. Diantaranya, ke Desa Ungkal, Mekarsari, Cijeruk, Cilembu, Margamukti, Sukahayu, Mekarbakti, Cimarga, Malaka dan Kebon Kalapa,” urai Sudung. Kemudian sesudah itu mereka pun beranjak ke desa lain yang juga akan mengembangkan penelitiannya ke kabupaten lainnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang  Dadang Sulaeman melalui Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Uyu Wahyudin mengatakan Agustus 2019 pihaknya sudah melakukan bulan penimbangan balita dan didapat  pevalensinya  di angka 8.7 persen.

“Sebenarnya absolutnya di  32,2 persen balita stunting di Kabupaten Sumedang dan nanti kita cek ulang lagi. Apakah beda penurunan karena kita sudah ada penyuluhan,” kata Dadang.

Pihaknya sudah mengumpulkan tiga angkatan dan memeriksa anak-anak perempuan yang memang endemis dan akan dicek lagi supaya nanti dapat solusinya.

Baca Juga  8 Fungsi Keluarga Bisa Cegah Stunting

“Kita ambil dari 10 desa diambil sampel ada sekitar 184  pra kontrasepsi yang kita teliti pertama dan ketemu angka 38 endemi, sebenarnya rendah hanya sekitar 18 %,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.