BANDUNG – Proses persiapan sistem e-Budgeting oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kota Bandung telah rampung. Wali Kota Bandung M. Ridwan Kamil mengapresiasi jajaran SKPD atas kinerja dalam proses e-Budgeting ini yang dinilai sangat optimal.
“Alhamdulillah, e-Budgeting berjalan lancar, kita salah satu kota paling cepat menurut konsultannya,” ucap Ridwan usai Rapat Rutin Pimpinan di Ruang Tengah Balai Kota Bandung, Senin (20/6/16).
Proses konstruksi e-Budgeting ini terbilang sangat cepat, yakni hanya enam bulan saja terhitung sejak diluncurkan. Dibandingkan dengan daerah lain, seperti Kota Surabaya dan DKI Jakarta, durasi waktu persiapan di Kota Bandung ini adalah yang tersingkat di Indonesia. “Paling cepat, lancar,” seru Emil.
Berkat e-Budgeting, kini Pemkot Bandung dapat memonitor komposisi anggaran dari seluruh SKPD dan bisa melakukan langkah-langkah strategis untuk melakukan efisiensi anggaran. Emil mengaku, dirinya menemukan beberapa pos anggaran yang masih kurang efisien dan akan dipotong.
“Contohnya perjalanan dinas selama ini besar sekali yang di luar daerah di dalam negeri, itu akan kita potong 50% kurang lebih. Perjalanan dinas keluar negeri juga, itu juga akan kita potong sampai 50% dan akan diatur seijin dari pimpinan kita,” ungkapnya.
Efisiensi lainnya akan diberlakukan pada pengadaan Alat Tulis Kantor (ATK) yang juga memakan banyak anggaran. Setiap SKPD biasanya melakukan pembelian ATK secara sendiri-sendiri sehingga untuk barang yang sama, harga yang ditetapkan bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, Ridwan akan membentuk UPT Logistik yang akan mengurusi masalah-masalah pengadaan administratif di lingkungan Pemkot Bandung. “Jadi nanti kalau yang butuh, datang saja ke UPT Logistik itu,” kata dia.
Demikian pula dengan biaya fotokopi yang memakan biaya hampir Rp12 miliar untuk seluruh SKPD. Ridwan akan melakukan penghematan dengan cara membeli mesin fotokopi untuk seluruh SKPD. “Itu akan diubah sekarang. Kita beli mesin fotokopi, jadi nggak ada biaya lagi sekian milyar kali sekian tahun, kan,” ujarnya.
Terkait angka yang fantastis tersebut, menurutnya hal tersebut wajar dan bukan berarti ada tindakan yang tidak sesuai aturan. “Artinya wajar saja, cuma masih ada cara lebih hemat, maksud saya. Jadi ada barangnya, tidak ada korupsi. Cuma mending saya beli mesin foto kopi, fotokopi sendiri,” tuturnya. Dengan memiliki mesin foto kopi sendiri, diharapkan terjadi pengurangan biaya.
Ridwan memaparkan, strategi dan kebijakan tersebut merupakan contoh penghematan dari penerapan e-Budgeting. Setelah sistem ini diberlakukan, Pemkot Bandung dapat menghemat anggaran hingga ratusan milyar rupiah. “Insya Allah, proporsi anggaran Kota Bandung lebih baik, lebih prioritas, lebih bisa dipertanggungjawabkan dan tidak ada anggaran-anggaran siluman yang nyelip-nyelip, manual kalau kayak dulu ya,” ujar Ridwan.
Emil kemudian akan mengalokasikan hasil penghematan anggaran tersebut ke hal-hal yang bersifat prioritas. Rencananya, alokasi tersebut akan diperuntukkan bagi pembangunan infrastruktur, bidang kesehatan, dan pendidikan.