
BANDUNG – Gabungan Petani Kopi Kebun dan Hutan Indonesia (Gapekkhi) Jabar menyiapkan sedikitnya 4 ton kopi sepanjang penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 di Bandung Raya. Kopi tersebut disiapkan sekitar 1.300 petani kopi Jabar yang tergabung dalam Gapekkhi. Kopi dari Gapekkhi juga jadi Coffee Official PON XIX.
“Kita siapkan 4 ton kopi Arabica khas Jabar sepanjang penyelenggaraan PON XIX ini,” kata Ketua Gapekkhi Thio Setiowekti kepada Balebandung.com ditemui di Booth Gapekkhi pada ajang De Syukron, acara memeriahkan HUT Provinsi Jawa Barat ke-71, Minggu (4/9/2016). Bukan cuma sepanjang PON, kata Thio, Gapekkhi juga menyiapkan 6 ton kopi Jabar pasca PON untuk kontinyuitas pasokan kopi.
Menurut Thio, mestinya ajang PON jadi kesempatan bagi petani kopi Jabar untuk mengenalkan kopi khas asal tanah Pasundan ini ke seluruh Indonesia di ajang PON. Lebih dari itu PON juga harusnya dijadikan momen yang pas bagi petani kopi Jawa Barat untuk mengembangkan usaha dan pasarnya.
“Sekarang ini sedang krisis kopi nasional akibat faktor cuaca dan bencana alam seperti erupsi Gunung Sinabung di Medan dan kebakaran hutan di Riau. Penghasil kopi di Indonesia seperti Sumatra dan Jawa Timur sedang kolaps. Sementara Jabar relatif aman dari bencana alam seperti itu. Jadi, selama dua tahun belakangan ini Sumatra yang dikenal sebagai penghasil kopi, ternyata 60 persen kopinya disuplai dari Jabar,” ungkap Thio.Sayangnnya, imbuh dia, para stakeholder kopi di Jabar kurang memahami dan jmerespon akan kondisi perkopian seperti saat ini.
Thio mengatakan, masyarakat harus menumbuhkan budaya minum kopi lokal yang dihasilkan di kebun dan hutan negara maupun masyarakat. Dengan begitu, kata dia, kopi petani Indonesia menjadi kebanggaan bangsa yang disegani dan dinikmati di negerinya sendiri.
“Petani Gapekhi Jabar kedepannya dapat memegang pasokan kopi ke seluruh Indonesia. Inginnya dalam PON ini selain prestasi jadi Jabar Kahiji, secara ekonomi juga dapat menjadi kahiji dari kopi kahiji,” ucapnya.
Thio menjelaskan, Gapekkhi yang berdiri pada 27 Januari 2016 itu untuk membantu para petani kopi kebun dan hutan. Harapannya bisa meningkatkan usaha kopi dari hulu sampai hilir secara mandiri, terutama pascapanen agar tidak dikuasai tengkulak.
“Salah satunya Gapekkhi sudah berhasil membuat mesin hulling dan roasting kopi produk home industry sendiri yang tidak kalah dengan mesin pabrikan,” pungkasnya.