
BALEKOTA – Konferensi Asia Afrika 1955 jadi magnet Kota Bandung sehingga menarik investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di kota ini. Peristiwa bersejarah tersebut jadi salah satu alasan Pemerintah Kota Hangzhou, Republik Rakyat Tiongkok, untuk menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung.
Hal tersebut diterangkan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Shanghai, Siti N. Mauludiah kepada Wakil Wali Kota Bandung, Oded M. Danial saat melakukan pertemuan dalam rangka mengomunikasikan rencana kerja sama tersebut di Bale Kota Bandung, (26/1/17).
Siti mengaku telah menawarkan beberapa kota di Indonesia untuk dijadikan mitra dengan Hangzhou. “Tapi lalu mereka memilih Bandung, salah satunya karena Bandung menjadi tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika,” ungkapnya.
Hangzhou adalah kota terbesar di Provinsi Zhejiang yang memiliki karakteristik hampir serupa dengan Bandung. Pemerintahannya sama-sama mengusung konsep smart city. Di kota ini, teknologi telah menjelma jadi kebutuhan sehari-hari, salah satunya dalam kehidupan ekonomi masyarakat.
Contohnya, membayar secara tunai bukan lagi budaya di Hangzhou. Masyarakat di sana hampir semuanya telah meninggalkan metode transaksi itu, berganti dengan pembayaran melalui ponsel pintar. Hampir setiap toko pun telah memiliki sistem daring sendiri.
“Sudah jarang sekali ada yang pakai tunai. Sebentar lagi Imlek, pasti banyak yang memberi angpau dengan transfer melalui ponsel,” ujar Siti.
Terlebih lagi, Alibaba, e-commerce terbesar di dunia cukup mendominasi di Hangzhou. Perusahaan teknologi Huawei juga menempatkan kantor riset dan pengembangannya di sana. “Maka pasar online di sana sangat kuat. Kalau kita tidak ikutan, bisa jadi ketinggalan,” imbuh Siti.
Jika memungkinkan, Siti ingin Bandung bekerja sama dalam bidang ekonomi. Ia ingin membawa produk-produk Indonesia untuk dijual di sana, terutama produk makanan dan buah-buahan. “Jumlah penduduk di sana sangat banyak dan bisa menjadi pasar yang sangat potensial,” kata dia.
Selain itu, kerja sama di bidang pendidikan pun akan dijajaki. Siti akan menjalin komunikasi dengan beberapa perguruan tinggi , seperti Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Pendidikan Indonesia. “Mungkin bentuknya bisa pertukaran pelajar atau kerja sama riset. Mereka banyak menyediakan beasiswa,” ucapnya.
Oded pun menyambut baik tawaran kerja sama tersebut. Hal itu, menurutnya, bisa meningkatkan pengembangan kerja sama pemerintah kota dengan pemerintah di luar negeri.
“Saya dan Pak Walikota ingin kerja sama Kota Bandung ini tidak hanya lokal dan regional, tapi juga internasional. Maka kami akan tindak lanjuti pertemuan ini,” kata Oded.
Oded memandang ada banyak hal yang bisa dikerjasamakan. Tidak hanya ekonomi, bisnis, dan pendidikan saja tetapi juga sosial budaya dan pariwisata. Oleh karena itu, ia setuju bahwa kerja sama sister city akan menjadi peluang yang baik.
Pemerintah Kota Bandung menawarkan untuk membuka Little Bandung Store di Hangzhou, sebagaimana yang telah dilakukan di Kuala Lumpur Malaysia. Hal tersebut untuk memfasilitasi produk-produk Bandung yang akan mengembangkan pasar di luar negeri.