
KOTA BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bersama Walikota Bandung Ridwan Kamil dan Kabareskrim Komjen Pol Anang Iskandar, beserta Kapolda Jabar Irjen Pon Moechgiarto, menggelar rapat penentuan mutual checkhing zero (MC-0) Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), di kawasan Gedebage Kota Bandung, Rabu (10/2/16).
Gubernur Jabar berharap penentuan MC-0 atau titik awal perbaikan, serta proses perbaikannya itu sendiri dapat berjalan lancar, dan secepat mungkin selesai segala urusannya. Dengan begitu pihaknya bisa segera mengajukan GBLA ke KONI, tekait pemanfaatan stadion yang dirancang bertaraf internasional tersebut untuk pelaksanaan PON XIX & Peparnas XV 2016.
“Tentu kita sangat mengerti, sangat menghormati, kehendak masyarakat Bandung, Jawa Barat pada umumnya. Untuk supaya pembukaan maupun penutupan PON itu di GBLA. Oleh karena itu, mohon doa kepada semuanya, mudah-mudahan semenjak MC-0 resminya akan diserahkan semingguan ke depan oleh Bareskrim, maka semenjak itu pula kita akan memperbaiki, mudah-mudahan perbaikannya cepat. Cepat tuntas juga segala urusan tarkait ini. Nanti setelah selesai semuanya, kita konsul ke KONI sebagai pemegang mandat, untuk iya atau tidaknya GBLA dapat digunakan,” papar Heryawan.
Aher sendiri mengaku sebagai Ketua PB PON, ingin, Opening maupun Closing Ceremony di GBLA. “Tetapi nanti kita konsultasi ke KONI dengan segala persyaratannya. Persyaratan gedungnya, ditambah persyaratan sarana prasarananya. Kalau kata KONI cocok, oke!” ujarnya.
Senada dengan Gubernur Aher, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil ingin perbaikan GBLA selesai dalam waktu 3 bulan. Ini demi tercapainya segala bentuk administrasi penggunaan stadion di kawasan Gede Bage itu. Walikota pun bertekad akan senantiasa mendorong pihak kontraktor untuk bekerja siang dan malam.
Ridwan menerangkan masalah konstruksi yang dialami GBLA sebenarnya sederhana. Menurutnya itu karena daerah tersebut awalnya merupakan tanah rawa. Tanah rawa pada dasarnya bersifat kurang stabil yang bergerak ke dalam dan ke samping. Harusnya, kata Emil, dari awal perancangannya dihitung dengan cermat dan tidak ada pondasi pendek.
“Target dari Provinsi, harus ada waktu leluasa untuk klarifikasi dan permohonan ke KONI. Itu butuh waktu beberapa bulan sebelum pembukaan harus diputuskan. Saya inginnya selesai 3 bulan, nanti saya rapat, semoga bisa dipenuhi oleh kontraktor. Pasti akan saya push mereka (kontraktor) kerja siang-malam,” pungkas Emil.