SOREANG,balebandung.com – Penggiat Lingkungan Jaga Balai Kabupaten Bandung Denni Hamdani mengatakan, program restorasi kawasan berbasis pesantren, dijadikan sebuah program yang bisa terus didorong karena populasi pesantren begitu besar di Kabupaten Bandung sangat.
“Sehingga programnya kita berikan akronim yang namanya OPON (One Pesantren One Nursery) atau satu pesantren satu persemaian. Memang bukan hal yang baru, dan sebenarnya sudah banyak yang diinisiasi oleh pesantren-pesantren dengan memanfaatkan potensi santri yang ada di pesantren,” kata Denni Hamdani kepada wartawan di Soreang, Rabu (19/10/2022).
Menurutnya, dalam program ini pesantren menjadi garda terdepan dalam penyelamatan lingkungan, sebagai manifestasi dari fiqih ekologi atau fiqih lingkungan. Untuk itu, upaya kesalehan sosial itu bisa dicapai dengan tiga pilar, yaitu hablumminallah, hablumminnanas dan hablumminalalam.
“OPON ini menjadi sebuah cikal bakal kedepannya, di kawasan-kawasan penyamaran lingkungan. Sederhananya menjadi KBS (Kebun Bibit Santri),” katanya.
Denni mengatakan pembibitan yang dilakukan disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. “Apakah lebih dominan tanaman endemik atau tanaman produktif. Jadi disesuaikan dengan lokasi pesantren. Seperti di Pesantren Miftahul Hidayah di Kampung Walahir Desa Drawati Kecamatan Paseh lebih dominan ke tanaman produktif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.
Menurutnya, tanaman-tanaman untuk restorasi kawasan karena sebagian besar di daerah Desa Drawati itu sekitar 75 persen sudah relatif hijau. Kecuali di kawasan Gunung Salasih, Gunung Kasur, Gunung Pulus, yang dinilai rentan terhadap terjadinya bencana.
“Yang menyebabkan luapan Sungai Cisunggalah dan kebakaran hutan pada saat musim kemarau,” katanya.
Denni mengatakan anak-anak yang dibina di lingkungan pesantren itu, mulai dari pengenalan proses budidaya tanaman dari mulai biji tanaman.
“Mulai dari anak-anak PAUD, TK, SD, SMP hingga ke yang lebih besar, kita libatkan semuanya. Sekitar 120 anak-anak yang dibina di Pesantren Miftahul Hidayah tersebut. Masyarakat biasa dilibatkan dalam kontek penanaman. Jadi hasil persemaian itu kita bagikan kepada ibu-ibu atau jamaah pada saat selesai pengajian untuk ditanam di kebun mereka nasing-masing atau di sekitar hutan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan tanaman produktif seperti alpukat, sudah mulai tumbuh besar, yang nantinya bisa dirasakan oleh masyarakat.
“Sedangkan di sepadan sungai, kita tanam untuk pakan ternak. Hal itu untuk membantu pengadaan pakan ternak warga sekitar, terutama disaat musim kemarau bahwa pakan ternak sulit didapat sehingga bisa memanfaatkan dedaunan pada tanaman itu dan tidak perlu menebang,” katanya.
Ia mengatakan melibatkan pesantren itu, dengan tujuan akhir adalah menghijaukan lahan dengan berbagai aspek, selain ekonomi, juga ekologi. “Termasuk di sini adalah untuk pengadaan pakan terbaik. Kalau tanaman petani, itu kan jangka panjang, tapi jangka pendek adalah tanaman untuk pakan ternak,” katanya.
Ia mengatakan tanaman agroporestri, tanaman produk dan tanaman ekologis juga, tanaman untuk pakan ternak tadi. “Ada proporsi keseimbangan antara tanaman pelindung, untuk melindungan mata air, untuk melindungi terhadap kemungkinan terjadi longsor dan segala macam, perlindungan terhadap kemiringan tanah, tanaman produk yang bisa membantu ekonomi masyarakat.***