
JAKARTA – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan didampingi Asisten Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan (Asda II) Deny Juanda, menghadiri penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi di Istana Negara Jakarta, Senin (22/2/16). MoU ditandatangani langsung di hadapan Presiden Joko Widodo.
Penandatanganan dilakukan antara Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dengan Gubernur, Kapolda, Bupati dan Walikota yang wilayahnya terdapat kawasan industri pelaksana kemudahan investasi langsung konstruksi. Ini adalah wujud kesiapan BKPM dalam mengimplementasikan terobosan kebijakan Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK). Layanan KLIK ini, merupakan perizinan yang diberikan kepada perusahaan yang akan melakukan investasi berlokasi di kawasan industri tertentu.
Gubernur Heryawan menyatakan Pemprov Jabar siap jadi daerah percontohan untuk kemudahan invetasi langsung kontruksi, sesuai dengan instruksi presiden. Pemprov Jabar harus bisa selesaikan ijin selama tiga hari bahkan tiga jam saja. Lebih lanjut Heryawan mengatakan ada lima kawasan industri yang akan menerapkan kebijakan ini.
“Alhamdulillah, Jawa Barat ada lima kawasan industri, ada dua di Bekasi, tiga di Karawang. Di kawasan tersebut mulai hari ini berlaku investasi cepat, langsung bangun,” kata Aher dirilis Humas Pemprov Jabar, Senin (22/2/16).
“Kalau yang ini (KLIK) bisa cepat karena tata ruangnya sudah jadi. Ini bisa cepat karena industri ditempatkan di kawasan yang tata ruangnya sudah jadi. Kawasan industri tata ruangnya sudah jadi, kan semuanya dibuat memang untuk industri. Penempatannya pun sudah sangat spesifik; otomotif, elektronik, manufaktur, dan lain-lain. Ya, di luar kawasan industri tersebut tetap butuh waktu yang tidak bisa gegabah. Sebab kalau gegabah bisa mengancam masyarakat kita,” terang Aher.
Sementara untuk lima kawasan industri di Jawa Barat yang menyepakati kebijakan tersebut diantaranya:
1. MM2100 / Bekasi Fajar Industrian Estate, dengan luas wilayah 1500 ha, luas wilayah yang telah terpakai 1200 ha, dan kawasan yang belum terpakai 300 ha. Berlokasi di Kabupaten Bekasi, dengan bidang industri yang dominan diantaranya otomotif, baja, dan elektrinik. Saat ini sebanyak 241 perusahaan Jepang menduduki kawasan ini.
2. Delta Silicon, luas keseluruhan 158,9 ha, lahan terpakai 60,3 ha, yang belum terpakai 98,6 ha. Berlokasi di Kabupaten Bekasi. Industri yang dominan perumahan, pergudangan, dan mall. Terdapat 16 perusahaan, 4 perorangan.
3. KIIC Karawang, luas keseluruhan 1200 ha, luas yang terpakai 900 ha, luas yang belum dipakai 300 ha, berlokasi di Kabupaten Karawang. Jenis usaha/industri yang dominan komponen kendaraan bermotor. Saat ini terdapat +- 130 Perusahaan.
4. Suryacipta City of Industri, luas keseluruhan wilayah 1400 ha, luas wilayah yang telah terpakai 1100 ha, dan yang masih belum terpakai 300 ha, berlokasi di Kabupaten Karawang. Jenis industri yang dominan elektronik dan komunikasi. Jumlah perusahaan +- 100.
5. GT Techno Park, luas keseluruhan wilayah 400 ha, luas yang telah terpakai 300 ha, dan yang belum terpakai 100 ha, berlokasi di Kabupaten Karawang. Industri yang dominan manufaktur. Jumlah perusahaan yang ada 3 perusahaan (Gajah Tunggal).
Menurut Aher, Jawa Barat pun merupakan sasaran utama lokasi investasi, dimana pertumbuhan ekonomi Jabar tumbuh di atas nasional. Pada triwulan III – 2015 tumbuh 5,03% , sementara nasional 4,73% yoy (years on years).
Jabar diharapkan berkontribusi 14,4% terhadap target investasi (PMDN/PMA) nasional tahun 2015 – 2019. Dengan total untuk 5 tahun ke depan Rp. 505,6 triliun atau rerata Rp. 101,3 triliun, nasional total Rp. 3518,8 triliun. Pun Jabar pada realisasi investasi peringkat 1 terbesar pada tahun 2015, yaitu Rp. 98 triliun atau naik 9% dibandingkan realisasi tahun 2014.
“Jabar selama tahun 2015 terbaik, paling besar, tenaga kerja juga paling besar juga. Kemarin investasi Jabar itu nilainya Rp90-an triliun, kemudian tenaga kerja barunya 301 ribu. Insya Allah, pasti dengan kemudahan ini akan naik lagi targetnya,” ucap Aher.