CIMENYAN, Balebandung.com – Setelah mengamati berbagai varian kopi yang tersaji, seorang pengunjung lalu berujar, Toraja Bourbon ya! Body-nya yang tebal. Tak lama kemudian “ sruupuut…” sang pengunjung mengecap kopi pesanan sambil melebur dalam perbincangan di ruang Kedai Kopi Armor yang dikepung udara sejuk khas Dago, Bandung Utara.
Fragmen seperti itu jadi pemandangan yang bisa ditemui di Kedai Kopi Armor. Pengunjung akan langsung disambut bermacam varian kopi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang dipampang di area kopi bar.
Sesuai namanya Armor, yang berarti Arabika Multi Origin, menyajikan kopi Arabika dari Ciwidey yang terkenal sejak jaman Belanda, Gunung Manglayang dan Garut Jawa Barat. Kopi Karang Ploso Jawa Tengah, Kopi Ijen dari Malang, Jawa Timur. Dari Sumatera ada Kopi Gayo Aceh, Kopi Si Ria-ria Karo, Mandailing, Kopi Solok, Sumatera Barat, Kopi Robusta Lampung, Kopi Toraja, Sulawesi, Kopi Flores hingga Kopi Wamena dan Yahukimo dari Papua. Namun bagi yang ingin special lagi, Kedai Armor juga menyediakan Kopi Liberika, kopi Arabika yang memiliki rasa khas buah nangka.

Soal citarasa, hhmm.. jangan khawatir… Pengunjung tinggal pesan sesuai selera yang diinginkan selanjutnya diBarista (peracik kopi) akan mengolah kopi secara manual sesuai selera yang diminta. Barista Armor memang terlatih mendeskripsikan citarasa kopi yang diminta pengunjung.
“Kopi itu art, kopi itu komunikasi, dan karakter kopi bisa kita keluarin. Mana selera yang diinginkan bisa kita perkuat,” kata Frans Willy, Roaster (penyangrai) Kopi Armor saat ditemui di Kedai Kopi Armor, Jalan Bukit Pakar Utara, Legok Randu, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.
Di Kedai Armor banyak pengunjung yang menikmati Kopi Toraja, Gayo dan Ciwidey. Kopi tersebut dan varian lainnya bisa dinikmati ala ekspreso, tubruk, aeropress, chemex dan v 60. Namun tak sedikit pengunjung yang mengekplorasi rada pada kopi. Baik tingkat keasaman, pahit, nuansa bunga (floral) dan buah.
“Di sini yang banyak di order Kopi Toraja, Gayo sama Ciwidey. Dengan karakter asam dan body-nya (kekentalan kopi) yang terkenal,” ujar Muhammad Firdaus, Head Barista Kedai Armor.
Salah seorang pengunjung Ahmad Yuda mengaku sebelumnya sering menikmati Kopi Robusta di Kedai Armor. Seiring waktu berjalan, Yuda juga pensaran menjajal kopi lainnya. Seperti Arabika Ijen dan Bali.
Di samping harganya murah, hal yang membuat Yuda kesengsem ngopi di Kedai Armor adalah suasananya yang nyaman. “Kita dapat kopi yang original tapi harganya oke. Di samping coffe shop lain, di sini banyak keunikannya dan suasananya asyik banget, nyaman,..” tutur Yuda.
Konsep kedai yang diusung ampuh menciptakan suasana yang cair, familiar dan berkesan dapat dijangkau oleh banyak kalangan. Harga kopi di Armor cukup terjangkau, cuma Rp 10 ribu sampai Rp 30 ribu. Sedangkan untuk Kopi Luwak dibandrol Rp50 ribu per gelas. Untuk melengkapi minum kopi, tersedia bermacam makanan khas Kedai Armor. Seperti cireng bumbu rujak, ketan bakar, olahan tahu dan lainnya yang dikemas ala makanan Jepang. Sama halnya dengan kopi, harga cemilan juga berkisar Rp10 sampai 30 ribu.

Dominasi kayu pada bangunan kedai dengan konsep ruang terbuka, seperti menemalikan pengunjung dengan udara yang sejuk dan rimbunan hijau pohon yang berada di sekeliling kedai. Sungguh suasana yang juara. Santai menikmati kopi sambil ditingkahi udara sejuk khas Bandung Utara.
Tak sekedar bicara kopi, ada sentuhan nasionalisme di kedai Armor. Bermula dari pemahaman dan pengalaman Frans Willy sang roaster Kedai Armor, bahwa Indonesia merupakan penghasil kopi nomor satu di dunia karena kopi asal Indonesia banyak digemari penikmat kopi di banyak negara.
“Indonesia ini tropis dianugerahi tanah yang bagus. Makanya Indonesia itu surganya kopi. Kopi Indonesia dikenal dan digemari di luar negeri. Jadi Armor ini punya misi bila selama ini kopi kita dikenal di luar negeri, Armor ingin mengenalkan kopi-kopi di Indonesia di negerinya sendiri,” ujar Willy.*** [yd]