Kedua Kaki Helmi Luka Bakar Parah Kena Api Unggun Pramuka

oleh -27 Dilihat
oleh
Kaki Helmi saat dirawat. by ist
Kaki Helmi saat dirawat. by ist

BANDUNG – Takdir tak dapat dipungkir, musibah tak dapat dicegah, menimpa bocah Helmi Zain Ramdhani (11), warga Jalan Kencana Wangi VI, RT 03 RW 09, Kelurahan Ciwaruga, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung. Kedua kakinya habis, mengalami luka bakar parah.

Helmi anak yang periang dan soleh. Siswa SD Plus Al-Aitaam, Jl. Ciganitri Terusan Buahbatu, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung ini sangat aktif termasuk ikut kegiatan Pramuka.

Suatu ketika ada perkemahan di sekolahnya pada 4 Februari 2017 lalu sekitar pukul 08.00 WIB, didatangkan kakak pembina dari luar sekolah. Namun sayang, saat sang pembina menyiramkan bensin ke api unggun, ternyata bensin dan api terus menyambar Helmi dan membakar habis seluruh kakinya.

“Waktu itu guru menyiramkan bensin dari botol ke api. Tapi tiba-tiba api itu menyambar tangan guru, lalu botol bensin itu dilemparkan dan kaki anak saya kecipratan bensin lalu api menyambar anak saya juga,” cerita Mea Nursanti, ibu Helmi saat ditemui di rumahnya, Senin (17/7/17).

Saat itu Mea bersama sang suami mendampingi kegiatan tersebut. Namun saat ia melihat kegiatan Pramuka tersebut tiba-tiba api sudah membesar dan melihat seorang siswa terbakar.

“Ada yang kebakar. Pas saya lari, saya ambil anak yang kebakar, ternyata anak saya sendiri kebakar. Saya lihat keadaan api di kaki anak saya sudah padam,” lanjutnya.

Mengetahui kondisi anaknya, Mea bersama sang suami langsung membawa ke klinik terdekat. Namun karena luka bakar yang parah, Helmi pun dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

“Luka bakarnya dari mata kaki sampai pangkal paha. Terus dibawa ke RSHS karena klinik enggak bisa nangani,”tuturnya.

Mea mengaku, anaknya sempat dirawat selama 4 bulan di RSHS. Bahkan Helmi sudah dioperasi sebanyak 9 kali atas luka bakar tersebut. Namun bukannya membaik, kondisi luka bakar Helmi kini jadi 36%. “Waktu kejadian itu 22 persen, tapi sekarang 35 persen,” sesalnya.

Baca Juga  Kak Dadang Naser : Pembina Pramuka Harus Up to Date Sikapi Perkembangan Zaman

Mea mengaku tidak tahan melihat penderitaan anaknya yang setiap dilakukan operasi Helmy tidak dibius. Menurut Mea, anaknya terlihat sangat kesakitan saat operasi pengelupasan kulit matinya, sampai-sampai Helmy berteriak-teriak saking sakitnya. Yang membuatnya sangat terharu lagi, Helmy selalu berteriak minta ampun kepada Allah dan kepada ibunya.

Tak tahan melihat penderitaan anaknya, Mea ingin Helmy dirawat dengan cara yang lebih baik dan tak terlalu menyiksa anaknya. Dia dan suaminya memutuskan menolak operasi Helmy yang ke-10 dan membawa Helmy ke rumahnya.

Sebulan setengah di rawat di rumah, kondisi Helmy tambah parah. Dengan uang seadanya, Helmy dibawa ke salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung. Apa daya, karena hanya ruangan saja yang ditanggung BPJS, biaya yang harus dibayar pun sangat besar. Kini Helmy pun kembali dirawat di rumahnya.

“Dalam setiap shalat, saya berdoa semoga Allah menggerakan hati manusia sedunia bersimpati sama anak saya,” tuturnya. Mea berharap ada pihak yang mau membantu biaya pengobatan anaknya hingga sembuh dan kembali bisa sekolah dan adzan di masjid seperti ketika Helmy masih sehat.

Tapi kini Helmi hanya bisa terbaring di atas kasur dan tidak bisa mengikuti kegiatan di sekolah akibat kejadian tersebut. “Jadi selama ini ya tiduran, nonton televisi, baca-baca di rumah,” tutur Mea.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.