
BANDUNG, Balebandung.com – Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin mengapresiasi keberhasilan Polresta Bandung dalam mengungkap kasis beredarnya daging babi menyerupai daging sapi yang beredar di pasaran.
Beredarnya daging sapi palsu yang sebenarnya daging babi atau daging celeng ini sudah beredar selama satu tahun, mesti menjadi perhatian keras pihak pemerintah bahwa aksi model seperti ini boleh jadi telah menyebar ke wilayah-wilayah Indonesia.
“Saya sangat menyayangkan model manipulasi produk pangan seperti ini. Selain melakukan penipuan, perilaku manipulasi daging babi menjadi daging sapi ini akan mencederai ideologi umat Islam. Inilah fungsi Satgas Pangan yang telah dibentuk, selain mencegah kartel, juga mencegah penipuan model begini”, kata Akmal dalam rilisnya, Selasa (12/3/20).
Anggota Fraksi PKS DPR RI ini mengatakan, memang saat ini daging sapi sedang langka. Awal tahun 2020 ini, kebutuhan impor daging sapi mencapai 300 ribu ton untuk memenuhi permintaan daging nasional. Namun kondisi wabah seperti ini, masyarakat dapat memahami untuk tidak memaksakan konsumsi daging sapi dan merubahnya ke konsumsi daging ayam. Dengan kondisi daging ayam yang rusak harganya, akan ada solusi untuk masyarakat akan kebutuhan daging dan pelaku usaha ayam yang membaik harganya.
Kondisi kekurangan daging sapi yang dimanfaatkan oleh segelintir pihak ini mesti ditindak lanjuti secara serius untuk menyisir pasar-pasar di seluruh Indonesia, agar tidak ada kejadian yang melakukan tindakan yang sama.
“Pelaku penipuan daging sapi palsu yang berasal dari daging babi, biasanya didistribusi ke pasar-pasar tradisional. Selain masyarakat mesti waspada dengan apa yang akan dibeli, campur tangan pemerintah untuk bergerak ke seluruh wilayah Indonesia mesti dilakukan. Apalagi ini menjelang moment Idul Fitri, pasti kebutuhan daging meningkat”, ucap Akmal.
Seiring dengan kejadian daging babi mirip daging sapi, politisi PKS ini meminta kepada Kementerian Pertanian untuk segera merealisasi pemenuhan daging sapi dari dalam negeri. Akmal menyebut 300 ribu ton daging sapi ini setara dengan 1,3 juta sampai dengan 1,7 juta ekor sapi. Ini merupakan pekerjaan rumah Kementan yang dari dulu hingga sekarang tidak kunjung selesai. Padahal negara kita memiliki kemampuan sumber daya alam yang memadai.
“Saya minta pemerintah serius mengurusi pangan rakyat ini. Serius berfikir memenuhi kebutuhan yang sumbernya dari dalam negeri, bukan cari yang mudah dengan membuka kran impor. Mengurusi negara kita ini, jangan juga seperti mengurusi perusahaan. Karena prilaku impor pangan ini hanya menguntungkan segelintir oknum, dan merusak hajat hidup sebagian rakyat Indonesia”, tutup Andi Akmal Pasluddin. ***