Nih, Kisah Sukses BUMDes Sukamenak Atasi Krisis Air Bersih

oleh -26 Dilihat
oleh
Ketua BUMDes Sukamenak Efendi (tengah) berbincang dengan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Tranmigrasi Eko Putro Sandjojo saat berkunjung ke BUMDes Sukamenak, Kec Margahayu, Kab Bandung, Jumat (12/8). ist
Ketua BUMDes Sukamenak Efendi (tengah) berbincang dengan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Tranmigrasi Eko Putro Sandjojo saat berkunjung ke BUMDes Sukamenak, Kec Margahayu, Kab Bandung, Jumat (12/8). ist

MARGAHAYU – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) ternyata tak hanya berperan dalam upaya menggerakkan perekonomian desa. BUMDes ternyata juga bisa berperan untuk sekaligus mengatasi krisis yang dialami desa semisal krisis air bersih. Inilah yang dilakukan BUMDes Sukamenak, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung.

Ketua BUMDes Sukamenak Efendi berkisah, BUMDes Sukamenak yang saat ini dipimpinnya bergerak dalam pengelolan air bersih dengan modal awal sebesar Rp15 juta. Dana itu berasal dari bantuan hibah Pemkab Bandung. Dana tersebut dipakai untuk membangun infrastruktur pengelolaan air bersih tingkat desa.

Efendi mengaku bangga atas kehadiran Menteri Desa meninjau BUMDes Sukamenak yang sudah berdiri sejak tahun 2007 dan fokus mengelola air bersih bagi kebutuhan warga yang berada di desa tersebut.

”Ini kali pertama kami di kunjungi langsun oleh Bapak Menteri,” ucap Efendi saat kunjungan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo ke BUMDes Sukamenak , Jumat (12/8/16).

Effendi menyebutkan hingga kini BUMDes Sukamenak telah memiliki pelanggan sebanyak 700 kepala keluarga. “Pelanggan semuanya warga Desa Sukamenak,” kata dia. Air bersih yang dikelola BUMDes Sukamenak, bersumber dari tiga sumur boor yang dibangun di wilayah tersebut.

Air yang dialirkan ke rumah-rumah pelanggan itu harganya dibandrol sebesar Rp1000 per meter kubik. Dari usaha pelayanan air bersih itu, BUMDes Sukamenak berhasil meraih omset rata-rata sebesar Rp19 juta per bulan.

Dana itu diputar lagi untuk permodalan sebanyak Rp9 juta untuk biaya listrik, gaji pengelola sebanyak 15% dan alokasi untuk desa 10% dari omset. Keuntungan bersih tiap bulan setelah dikurangi berbagai beban biaya mencapai Rp4 juta.

Pengelolan air bersih yang bertempat di lahan carik desa tersebut, kata Effendi, permintaanya sangat tinggi. Namun dirinya mengaku tak bisa memenuhi semua karena keterbatasan volume air. “Untuk memenuhi permintaan itu kami saat ini tengah merancang meningkatkan volume air yang telah ada,” ungkapnya.

Baca Juga  Seorang Remaja Tewas Diduga Korban Penganiayaan

Efendi menambahkan, BUMDes Sukamenak juga memiliki koperasi simpan pinjam untuk ibu-ibu yang berada di lingkungan Desa Sukamenak. Melihat kemajuan BUMDes Sukamenak, Menteri Eko Putro Sandjojo menegaskan, BUMDes Sukamenak selayaknya bisa dijadikan sebagai salah satu contoh bagi desa yang lain untuk mendorong perekonomian masyarakat desa, demi mewujudkan desa mandiri, maju dan sejahtera.

Eko mengatakan, salah cara menciptakan desa membangun Indonesia adalah mendorong perekonomian masyarakat desa melalui BUMDes. “Desa-desa rencananya kami push (dorong) untuk membentuk badan usaha desa,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.