BANDUNG – Pasca dirilisnya survei dari Transparancy Internasional Indonesia (TII) yang menempatkan Kota Bandung sebagai kota dengan persentase suap tertinggi mencapai 10,8 % dari total biaya, hal ini mengagetkan banyak pihak. Soalnya Pemkot Bandung sudah dianggap melakukan pembersihan di instansi terkait, tapi malah suap masih terjadi dan malah di tahun 2017 lebih parah.
Survei yang dikerjakan TII sepanjang bulan Juli hingga Agustus 2017 tersebut membuka mata masyarakat bahwa ternyata tahun sebelumnya upaya mengurangi suap terkait perijinan di Kota Bandung sudah berjalan dengan baik. Tapi mengapa jadi berbanding terbalik dengan tahun 2017 di mana suap marak lagi?
Hal tersebut membuktikan suap di Pemkot Bandung sudah membudaya. Siapapun pimpinan instansi perijinan tetap tidak bisa menghentikan dengan tuntas praktek yang sudah menggurita sejak lama.
Menanggapi hal ini pengamat pemerintahan dari Local Goverment Institute Studies Bambang Wisono menyatakan, praktek suap di Pemkot Bandung di bidang perijinan berdasarkan hasil survei yang dirilis oleh TII untuk tahun 2017, terparah dibanding tahun 2015 & 2016.
“Artinya pimpinan instansi perijinan di tahun sebelumnya sudah berusaha memperbaiki sistem prosedur perijinan yang bertujuan untuk memberantas suap, namun tahun ini setelah berganti pimpinan, hal tersebut tidak bisa dipertahankan. Perijinan menjadi lebih lambat, pelaku usaha dirugikan dan malah memicu lebih maraknya suap,” ungkap Bambang, Sabtu (2/12/17).
Jangan sampai, imbuh Bambang, budaya suap yang sudah “menggurita” di Pemkot Bandung memakan korban lagi yang tidak sepenuhnya bersalah. “Ternyata justru pelaku dan penerima suap yang sebenarnya masih berkeliaran,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, dalam survei Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2017 yang dirilis Rabu 22 November 2017 lalu di Jakarta, TII menyebut persepsi suap di Kota Bandung mencapai 10,8% dari total biaya produksi. Makassar diketahui sebagai kota dengan persepsi suap terendah, yakni 1,8% dari total biaya produksi.
Ada 12 kota di Indonesia yang disurvei oleh TII. Bandung dipilih sebagai representasi Jawa Barat. Ke-12 kota tersebut adalah Bandung, Jakarta Utara, Pontianak, Pekanbaru, Balikpapan, Banjarmasin, Padang, Manado, Suarabaya, Semarang, Makassar, dan Medan. Survei yang dikerjakan sepanjang Juli hingga Agustus 2017 tersebut melibatkan 1.200 pelaku usaha sebagai responden.