
BANDUNG, Balebandung.com – Iwung Foundation menggelar konser angklung spektakuler di Atrium Braga Citywalk, Bandung, Jumat (6/12/19). Konser ini merupakan konser keempat kali yang dikelola oleh Yayasan Iwung Foundation, sebuah yayasan nirlaba yang bergerak di bidang pembinaan, pertunjukan, research dan donasi angklung.
Konser bertajuk Prelude in Angklung: Epic Crescendio, bermakna sebuah permulaan menuju kebanggaan dalam dunia angklung yang diharapkan dapat menjadi terobosan baru dalam bermusik angklung. Konser ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenalkan musik angklung agar lebih dekat dengan masyarakat, dan sebagai ajang promosi kegiatan konser tahunan Iwung Foundation yang rutin digelar pada 9 Maret setiap tahunnya dalam rangka memperingati Hari Musik Nasional.
Konser berdurasi dua jam ini menampilkan 11 karya aransemen dan komposisi musik angklung baru buah karya dari Yadi Mulyadi dan Whayan Christiana, dua orang komposer sekaligus dosen di Prodi Angklung dan Musik Bambu, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.
Kesebelas karya tersebut, antara lain: Opening, The Shire, He’s Pirates, Mossa, Gendhuk Thole, Gobak Sodor, Teroreng, Kontradiksi, Extention, Bakikik dan Sky. Karya-karya tersebut dimainkan melalui media alat musik bambu berupa angklung toél, carumba (calung rumpun bambu) atau gambang bambu, angklung orkestra, dan suling yang dipadupadankan dengan alat musik barat seperti: piano, drum, bass dan gitar.
Selama pertunjukan, penonton tak henti-hentinya dibuat terkesima dengan sajian musik kontemporer yang unik dan tentunya menakjubkan. Meskipun dipadukan dengan alat musik barat dan menggunakan tangga nada diatonis layaknya komposisi musik modern lainnya, komposisi musik baru dalam konser Prelude in Angklung ini sangat kental dengan nuansa musik Sunda.
Misalnya saja pada Opening yang digunakan sebagai lagu pembukaan konser, atau lagu Kontradiksi yang beberapa melodi lagunya menggunakan pentatonic scale yang terdengar mirip dengan laras Madenda dalam Karawitan Sunda.
Dari kesebelas karya yang disajikan, penulis sangat tertarik pada satu komposisi musik yang merupakan hasil karya dari Yadi Mulyadi selaku founder Iwung Foundation yang berjudul Bakikik. Pada karya ini, nuansa Sunda terdengar sangat kental dan terkesan lebih dominan jika dibandingkan dengan karya-karya lainnya. Kehadiran waditra suling Sunda, unsur beluk dengan rumpaka bahasa Sunda, dan pentatonic scale dalam laras Salendro terdengar begitu harmonis dengan nada-nada diatonis yang dimainkan tentunya memberikan cita rasa baru dalam dunia musik angklung.
Melalui konser Prelude in Angklung ini, Iwung Foundation berhasil menyuguhkan nuansa baru dalam komposisi musik angklung dan membuktikan bahwa alat musik tradisional Indonesia khususnya angklung dapat digunakan sebagai media berkreativitas yang tak melulu terkesan kuno dan kampungan. Iwung Foundation telah membuktikan bahwa angklung dapat dikomposisikan dengan sedemikian rupa agar menghasilkan sebuah karya yang unik dan menarik. *** by Mayang A. Nurzaini