
BALESAWALA – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII (Persero) memastikan untuk mampu mengikuti perkembangan zaman dengan menerapkan Revolusi Industri 4.0. Direktur Utama PTPN VIII Dr Ir Wahyu MM menandaskan, jika revolusi 4.0 yang mengedepankan connectivity ini tidak diimplementasikan di sektor pertanian dan perkebunan, Indonesia akan makin kalah bersaing.
“Harus diimplementasikan revolusi 4.0 ini. Kalau bicara perkembangan teknologi, sekecil apapun harus kita implementasikan. Tidak mungkin kita hindari. Pasti tuntutan jaman mengharuskan perbaikan dengan pemanfaatan teknologi. Kalau tidak, kita akan kalah bersaing,” kata Wahyu kepada Balebandung.com usai memberi Kuliah Umum Pertanian dan Revolusi Industri 4.0 di Bale Sawala Unpad Jatinangor, Selasa (5/3/19).
Wahyu menunjuk contok pada produk jagung harga jagung impor bisa lebih murah dari jagung dalam negeri. Hal itu menurutnya karena teknologi telah mampu menekan biaya produksi jagung di negara lain seperti Taiwan.
Lebih dari itu Wahyu juga mengungkapkan di masa kepemimpinannya, PTPN VIII akan memprioritaskan program restruksurisasi PTPN VIII di bidang sumber daya manusia, operasional keuangan atau efisiensi biaya,mengembangkan potensi-potensi obyek wisata seperti mengoptimalkan lahan agrowisata, di samping meningkatkan komoditi PTPN berupa teh, karet sawit, termasuk kopi.
“Restrukturisasi SDM bukan dalam artian akan memangkas karyawan yang ada, akan tetapi bagaimana mereposisi tugas karyawan yang ada sekarang, ke aktivitas lain di kebun agar bisa jadi lebih produktif, sehingga banyak karyawan yang beralih fungsi, misalnya dari komoditi teh ke komoditi lain,” terangnya.
Kendati begitu Wahyu tidak menyangkal jika revolusi 4.0 yang memanfaatkan teknologi dan robotic ini akan mampu mengurangi pemanfaatan tenaga kerja manusia. Terlebih PTPN VIII merupakan salah satu BUMN dengan jumlah karyawan terbanyak yang mencapai 45 ribu tenaga kerja.
“Makanya kita lakukan upaya-upaya diversifikasi produk, diversifikasi yang punya nilai tambah yang tinggi, sehingga dalam diversifikasi produk ini para karyawan bisa beralih garapannya ke produk yang baru, sehingga tidak diperlukan adanya pemangkasan tenaga kerja yang dampak sosialnya bisa luar biasa,” pungkas Wahyu.***