
BANDUNG, Balebandung.com – Salah satu tokoh yang dituding sebagai aktor kudeta, Darmizal, disebut oleh Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra sebagai orang yang murtad dari partai.
Darmizal dianggap murtad karena menyentil kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) selaku Ketum Demokrat yang terkesan melupakan perjuangan para pendiri partai berlambang Mercy itu. Pembelaan terhadap Darmizal pun bermunculan untuk memberi klarifikasi bahwa mantan Wakil Ketua Komisi Pengawas Partai Demokrat, HM Darmizal, tidak seperti yang dituduhkan Herzaky.
Yan Rizal Usman, salah satu tokoh senior yang juga mantan pengurus Partai Demokrat Jawa Barat menyebutkan, Darmizal memang secara gentlemen berhenti secara resmi dari dari pimpinan Komisi Pengawas Partai Demokrat pada 6 Mei 2018, jauh sebelum Partai Demokrat yang menetapkan pilihan ikut mengusung Capres Cawapres Prabowo-Sandi.
“Saat itu, karena idealisme dan insting politiknya yang begitu tajam, Darmizal memilih untuk mendukung Joko Widodo dengan membentuk Relawan Jokowi atau REJO. Karena pada saat itu Partai Demokrat belum menentukan pilihan, akankah mendukung Joko Widodo atau Prabowo. Sebagai konsekwensi dari pilihannya, maka Darmizal berhenti supaya tidak terjadi konflik kepentingan di organisasi. Ini satu sikap ksatria yang patut dipuji bukan dicaci,” kata Yan Rizal Usman kepada Balebandung.com, Kamis (11/2/21).
Menurut Yan Rizal, fakta membuktikan bahwa insting politik Darmizal sangat tajam. Joko Widodo menang dan menjadi Presiden. Selain itu, imbuh Yan Rizal, bahwa pada Pilkada DKI, Darmizal merupakan salah satu tokoh Partai Demokrat yang berjibaku mendukung pasangan Agus-Sylvi.
“Di Pilkada DKI, Darmizal all out, tidak hanya aktivitas yang total tetapi secara materi juga luar biasa. Itu bentuk totalitas ketika Darmizal sudah memberikan dukungan. Jadi Darmizal mundur secara terhormat dengan perjuangan politik yang luar biasa”, bela Kang Caca, sapaan Yan Rizal Usman.
Terkait dengan sebutan murtad oleh pengurus partai, Kang Caca menyebutkan bahwa yang menyebut murtad adalah orang-orang baru di Partai Demokrat, yang tidak paham sejarah.
“Selain tidak paham sejarah, para pengurus baru tersebut memang cenderung tidak punya spirit perjuangan dan kebersamaan. Mereka menduduki posisi secara instan, sehingga ceroboh dalam mengurus organisasi”, pungkas mantan pengurus Partai Demokrat Jabar ini.***